Nurani Kemanusiaan Mama Markel

Opini  JUM'AT, 09 NOVEMBER 2018 , 08:27:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Nurani Kemanusiaan Mama Markel

Angela Merkel/Net

RMOLPapua. TERBERITAKAN bahwa Angela Merkel menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatan ketua umum partai CDU pada bulan Desember 2018. Pengunduran diri Angela Merkel dari jabatan yang telah dipangku selama 18 tahun mengisyaratkan bahwa sang kanselir Jerman selama 12 tahun itu tidak akan mencalonkan diri sebagai kanselir Jerman lagi pada pemilu 2021.

Konyol

Berita tentang pengunduran diri Merkel disambut gembira oleh kaum populis sayap kanan pembenci kaum semit dan imigran yang sedang naik daun di Jerman. Namun para pengamat politik kekuasaan menyayangkan keputusan Merkel yang dianggap menyia-nyiakan kesempatan untuk tetap berkuasa.

Sebenarnya Merkel masih didukung rakyat Jerman yang masih memiliki sisa nurani kemanusiaan di samping meyakini bahwa Merkel adalah kanselir Jerman terbaik yang berhasil membawa Jerman kembali dihormati di percaturan politik mau pun ekonomi planet bumi masa kini.

Di bawah kepemimpinan tegas dengan sentuhan keibuan, Angela Merkel yang populer disebut Mama Merkel, terbukti Jerman menjadi negara paling terkemuka di Eropa. Namun bagi para penganut mashab kekuasaan sebagai tujuan utama politik memang keputusan Mama Merkel untuk mengundurkan diri dari percaturan politik bisa dianggap konyol bahkan bodoh.

Kemanusiaan

Silakan anggap saya naif, namun saya pribadi mengerti maka menghormati, keputusan Mama Merkel. Pengunduran diri secara bertahap perempuan pertama yang memimpin negara, bangsa dan rakyat Jerman membuktikan bahwa Mama Merkel tidak haus kekuasaan, maka sadar saat untuk berhenti berkuasa.

Mama Merkel memang bukan sekedar politikus yang memberhalakan kekuasaan namun negarawan bernurani kemanusiaan yang bahkan berani  meletakkan kepentingan kemanusiaan pada jenjang posisi jauh lebih tinggi di atas kepentingan kekuasaan.

Angela Merkel lebih layak menerima anugerah penghargaan Nobel ketimbang Aung San Syu Ki yang terbukti tidak mau menghentikan penindasan terhadap kaum Rohingnya atau Barack Obama yang terbukti tidak mampu menghentikan penyengsaraan rakyat Irak, Afghanistan, Suriah  dan Yaman.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Komentar Pembaca
Mr Seven Eleven

Mr Seven Eleven

RABU, 23 JANUARI 2019

Peradaban Kapitalisme Tanpa Kapital

Peradaban Kapitalisme Tanpa Kapital

SENIN, 21 JANUARI 2019

Debat Normatif

Debat Normatif

SABTU, 19 JANUARI 2019

Sekelumit Sejarahnya Sejarah

Sekelumit Sejarahnya Sejarah

SELASA, 15 JANUARI 2019

Petir Jagung

Petir Jagung

SENIN, 14 JANUARI 2019

Daniel Di Balik Byton

Daniel Di Balik Byton

SABTU, 12 JANUARI 2019

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Peluncuran Buku

Peluncuran Buku "Di Tepi Amu Darya"

KAMIS, 20 DESEMBER 2018 , 15:56:00

Peserta Reuni 212 Peduli Sampah

Peserta Reuni 212 Peduli Sampah

MINGGU, 02 DESEMBER 2018 , 09:30:00

Cincin Giok Rachmawati

Cincin Giok Rachmawati

JUM'AT, 07 DESEMBER 2018 , 10:40:00