AS Bakal Tutup Pintu Suaka Bagi Imigran Gelap?

Internasional  JUM'AT, 09 NOVEMBER 2018 , 13:27:00 WIB

AS Bakal Tutup Pintu Suaka Bagi Imigran Gelap?

Penjagaan perbatasan AS/BBC

RMOLPapua. Migran gelap yang masuk melalui perbatasan Amerika Serikat bagian selatan tidak akan lagi memenuhi syarat untuk mengajukan suaka.

Penjabat Jaksa Agung Matthew Whitaker dan Kepala Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen mengumumkan apa yang sebagai sebagai Peraturan Akhir Interm pada hari Kamis (8/11).

Mengutip BBC, pengumuman bersama itu menyatakan bahwa presiden memiliki kekuasaan untuk menangguhkan masuknya semua 'alien' dan memaksakan pembatasan apapun jika dinilai merugikan kepentingan AS di bawah UU Imigrasi dan Kewarganegaraan.

Dengan demikian, jika presiden mengeluarkan penangguhan atau larangan masuk melalui perbatasan AS/Meksiko, mereka yang secara ilegal berhasil masuk ke AS tidak akan diizinkan mengajukan permohonan suaka satu kali pun di sana.

"Hari ini, kami menggunakan wewenang yang diberikan kepada kami oleh Kongres untuk melarang orang asing yang melanggar larangan masuk Presiden atau pembatasan lainnya dari suaka," kata pernyataan bersama itu.

Aturan baru ini tidak akan berlaku surut dan diperkirakan segera ditandatangani oleh Presiden Trump.

Imigrasi adalah fokus utama Presiden Donald Trump dalam kampanye pemilihan jangka menengah (midterm election) 2018.

Menyusul serbuan ribuan orang Amerika Tengah menuju utara melalui Meksiko, Trump memerintahkan pasukan berjaga-jaga di perbatasan dan menyatakan para migran sebagai "invasi".

Sementara di bawah UU AS, ada kewajiban untuk mendengar klaim suaka dari migran yang melarikan diri karena takut kekerasan di negara asal mereka. Di bawah hukum internasional, imigran ini dianggap pengungsi.

Sekretaris Jenderal Amnesty Internasional, Kumi Naidoo mengeluarkan pernyataan yang menyerang retorika "tidak manusiawi" Presiden Trump.

"Suaka bukanlah celah, ini adalah jalur kehidupan," kata Naidoo. "Kebijakan ini tidak perlu menempatkan kehidupan ribuan orang dalam bahaya."

Upaya administrasi Trump untuk membatasi migrasi mendorong reaksi politik dan hukum.

Pada bulan Juni, Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang berjanji untuk "menjaga keluarga bersama" dalam tahanan migran, setelah orang tua dan anak-anak yang tidak didokumentasikan dipisahkan di perbatasan.

Beberapa hari kemudian, Mahkamah Agung menguatkan larangan kontroversial Trump terhadap orang-orang dari beberapa negara mayoritas Muslim.[RMOL]


Komentar Pembaca
Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 , 17:00:00

Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 , 17:00:00

Warga Pulau Pari Minta Sulaiman Dibebaskan

Warga Pulau Pari Minta Sulaiman Dibebaskan

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 , 13:00:00

Peluncuran Buku Papua Ethnography

Peluncuran Buku Papua Ethnography

SABTU, 13 OKTOBER 2018 , 11:19:00

Silatnas BEM Nusantara

Silatnas BEM Nusantara

SELASA, 30 OKTOBER 2018 , 12:06:00

Tinjau Pengamanan IMF-World Bank

Tinjau Pengamanan IMF-World Bank

RABU, 10 OKTOBER 2018 , 08:45:00